Renungan Kemerdekaan

Masih kuat dalam ingatan ketika membaca berita pada salah satu media awal Juni tentang adik Khaerunisa. Meninggal dunia dalam pelukan ayahnya di tumppukan kardus setelah 4 hari terserang muntaber. Heryanto bocah SD di Garut berani mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tidak mampu membayar uang sekolah. Sel-sel otaknya mengalami kerusakan karena lilitan kabel yang digunakan untuk bunuh diri. Medio Juli telah menampar bangsa, busung lapar masih merebak di belahan nusantara bahkan ibukota Jakarta.

Kehidupan keras telah merenggut proses pertumbuhan anak-anak. Khaerunisa yang selalu ceria lucu harus ikut kakak dan bapaknya mengais rejeki dengan mengumpulkan kardus. Heryanto yang harus ikut memikirikan susahnya mencari nafkah hanya untuk membayar sekolah. Pendidikan yang HARUS dia terima. Masa tunas - tunas yang seharusnya menjalani kehidupan dengan belajar, bermain, kasih sayang menumbuhkan bakat minat dan mengasah kemampuan. Namun harus menjalani kehidupan realita yang kejam.

Tentunya masih banyak nasib anak bangsa yang sama dengan adik Khaerunisa maupun Yanto bahkan lebih menyedihkan. Untuk mengenyam pendidikan tidak mampu. Untuk bermain dengan usia sebaya pun tidak ada waktu. Dan merekapun harus hidup dalam kejamnya kota menggelandang dalam dunia lain yang tidak pernah dipandang dalam derajat manusia, meski itu ada di depan mata. Apa yang dialami oleh Yanto dan Khaerunisa serta bayi busung lapar itu telah membuka kembali bisul kebobrokan nusantara ini.

Pendidikan gratis hanya sebatas impian. Pendidikan gratis yang digembar-gemborkan saat pemilu maupun pilkada hanya sebagai konsumsi tunggangan untuk meraih kekuasaan. Wajib belajar bagi sebagian masyarakat tertentu merupakan impian indah di awang-awang hanya sebagai bunga tidur. Pendidikan adalah poin penting untuk menjawab permasalahan bangsa, mengangkat dari kemiskinan, membuka tabu kebodohan, melipat dan merobohkan tirani penguasa. Padahal pendidikan adalah kebutuhan pokok dan utama bagi negeri ini dan harus dipenuhi oleh pemerintah.

Nusantara yang katanya kaya raya akan sumber daya alam ini ternyata untuk menciptakan pendidikan gratis minimal sampai tingkat SD masih sebatas impian. Padahal dalam UUD 1945 anggaran untuk pendidikan harus 20% atau lebih dari APBN. Jadi negara ini bukan tidak mempunyai uang, karena memang kaya akan sumber daya alam. Tetapi dalam pengelolaannya masih memikirkan perut buncit sendiri. Seperti apa yang dilakukan oleh Pemerintah dalam renovasi Patung dan Air mancur di Bundaran HI yang menghabiskan dana sebesar 14 Miliar Rupiah. Bila dana itu untuk alokasi sektor pendidikan maka banyak anak bangsa yang terselamatkan. Dan sang garuda mengepakkan sayap meneteskan air mata. Untuk merdekanya bangsa.

Leave a Reply