Gempa terasa di Teluk Dalam
14 Mei 2005 pagi kami tim AIRPUTIH berangkat ke Teluk Dalam yang berada di ujung selatan Pulau Nias. Keberangkatan kami ke Teluk dalam ini merupakan ajakan dari rekan-rekan HIC - UN OCHA. Mereka akan melakukan pendataan semua NGO-NGO yang bekerja di Nias Selatan. Mobil Land-Cruiser Devender warna putih dengan label UN memberangkatkan kami Teluk Dalam yang merupakan ibu kota Kabupaten Nias Selatan dan kurang lebih 83 Km arah selatan dari Gunung Sitoli. Kabupaten Nias Selatan merupakan pemekaran dari Nias induk. Akibat gempa 28 Maret kemarin bebrapa jembatan penghubung terjadi kerusakan sehingga menghambat perjalanan ke Teluk Dalam, 3 jam waktu yang harus ditempuh.
14 Mei 2005 sekitar pukul 12.00 WIB tepat di depan kantor ranting PLN di Teluk Dalam mesin mobil dimatikan. Memang Bang Andre dari UN OCHA ada keperluan untuk mengechekan perangkat PLN yang terjadi kerusakan di Teluk Dalam. Belum juga dingin mesin tiba-tiba goyangan kecil pada mobil terlihat. Mobil tergoyang semakin besar tatapan mata saya alihkan ke gedung-gedung dan tiang listrik. Ternyata gempa yang sedang terjadi, mobil UN di depan seperti memainkan pegas pada roda depan maupun belakang silih berganti. Secara spontan saya berteriak kepada teman yang masih dalam mobil untuk segera keluar. Tampak semua orang yang berada di dalam kantor PLN berhamburan lari keluar dan menuju lapangan di samping Masjid. Disisi lain satu orang seperti guru meneriaki siswa-siswanya untuk berkumpul di lapangan dan menjauh dari pantai. Memang kebetulan saat itu kami tidak jauh dari garis pantai mungkin sekitar 100 meter jaraknya. Andre dan Ali langsung menghubungi rekan-rekan UN di Gunung Sitoli maupun di Banda Aceh untuk memberikan informasi gempa di Teluk Dalam. Lukman segera mengontak rekan-rekan di Jakarta dan Banda Aceh untuk segera mencari data episentrum dan kekuatan gempa.
Sambil menanti gempa berhenti kami berlari ke lapangan untuk menjauh dari gedung dan tiang listrik yang bisa sewaktu-waktu jatuh. Sementara di seberang jalan masih terjadi hamburan orang keluar dari gedungnya masing-masing sambil berteriak memberitahukan bahwa terjadi gempa. Kurang lebih 1 menit lamanya gempa. Gerakan-gerakan selama 1 menit berhenti dengan sendirinya, kamipun langsung kembali ke mobil. Mobil diarahkan ke daerah pegunungan yang memang tampak di depan kami. sepanjang jalan yang kami lalui penuh dengan kendaraan dan rombongan keluarga yang hendak mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Toko-toko mulai ditutup dengan terburu-buru, bekal seadanya yang tampak di mata segera diangkut untuk persiapan di pengungsian. Tsunami itulah yang menjadi momok bagi semua penduduk saat itu. Suara klakson mulai ramai jalanan macet. Truck, mobil pickup, angkutan umum, becak, sepeda motor tumpek blek memenuhi jalan. Rombongan keluarga dengan membawa buntelan sarung kiran-kira berisi bekal makanan, seorang ibu membopong 2 anaknya yang masih kecil dan menggendong bayi kecil berjalan terburu dengan raut wajah ketakutan karena trauma. Bayangan gempa-gempa besar kemarin kembali seperti muncul dalam wajah mereka. Mobil berhenti pada asrama Bintang Laut yang berada pada lereng bukit.
30 menit tsunami yang kami takuti tidak datang, ada perasaan lega meski kecemasan masih menghantui. Kami kembali menuju ke kota untuk memeriksa ada korban atau tidak. Pertama yang kamikunjungi adalah kantor Bupati Kabupaten Nias Selatan. Menurut mereka masih belum ada laporan yang masuk mengenai korban maupun kerusakan rumah akibat gempa yang baru saja terjadi. Puskesmas Teluk Dalam tempat kedua yang kami datangi, namun juga belum ada laporan yang masuk mengenai korban. Belum puas mengenai informasi korban, kami menuju ke Kantor Polisi Resort Nias Selatan yang dekat dengan Kantor Kabupaten Nias Selatan. Namun info yang kami dapat juga sama yaitu belum ada laporan yang masuk mengenai korban. Kenapa harus menunggu laporan yang masuk, kenapa tidak ada reaksi yang aktif untuk melakukan pengechekan ke daerah-daerah. Kondisi berangsur normal, meski beberapa warga masih tetap bertahan di daerah pengungsian sementara. Sedangkan beberapa warga sudah kembali ke rumah masing-masing. shalahuddin yang berada di Jakarta mengontak Lukman dan memberikan informasi bahwa pusat gempa berada di koordinat 0.7 N 98.1 E dengan kekuatan 6.5 Skala Richter sesuai dengan sumber dari situs geofon. Setelah mengelilingi kota Teluk Dalam untuk memastikan tidak ada korban. Kami sepakat untuk kembali ke Gunung Sitoli sambil melakukan pengechekan desa-desa disepanjang jalan yang kami lalui.
Indonesia kaya akan sumber daya alam yang melimpah, menyimpan sejuta pesona dan kenakeragaman budaya yang menjadi identitas kultural bangsa. Indonesia juga merupakan tempat yang strategis terletak di antara dua benua yang besar. Indonesia merupakan tempat bertemunya jajaran pegunungan alpen dan himalaya. Indonesia memiliki karakteristik fauna yang menjadi batas dua wilayah yang berbeda yaitu walacea. Dan perlu diketahui bahwa Indonesia terpecah dalam beberapa lempeng besar dunia. Pulau Sumatera dan kepulauan di sebelah baratnya tepat berada digaris batas lempeng sunda dan lempeng australia. Akibat pergerakan kedua lempeng ini timbul gempa-gempa tektonik sehingga banyak menimbulkan korban jiwa seperti 26 desember 2004 dan 28 Maret 2005 kemarin, sudah ratusan gempa kecil maupun besar telah dan kerap terjadi dalam beberapa bulan ini, tentunya sistem peringatan dini harus segera dibangun sehingga langkah pengamanan bisa segera dilakukan untuk menghindari korban jiwa lagi.