Archive for May, 2005

UNICEF distribusikan tenda sekolah

Tuesday, May 24th, 2005

Tendaunicef13Setelah daerah Alasa, Lolofitu Moi dan Mandrehe saat ini Sirombu kecamatan yang akan dilakukan distribusi tenda dari unicef. Sirombu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Nias, letaknya di pesisir barat dari Pulau Nias sehingga langsung berbatasan dengan Samudera Hindia yang luas. Keberangkatan untuk distribusi tenda sekolah dari unicef ke Kecamatan Sirombu terlambat pagi itu karena kerusakan pada roda yang sudah menipis bannya. Sudah tiga hari ini saya ikut rekan-rekan unicef dalam pendistribusian tenda-tenda untuk sekolah-sekolah di Nias. Menurut keterangan dari Mas Hikmat bahwa satu set tenda tersebut bisa mempunyai berat hampir 900 Kg, sedangkan kali ini yang akan kami sebarkan sebanyak 6 set tenda yang di bagi dalam 2 truck. Truck kuning yang sudah tua membawa tenda dengan beban sekitar 2 ton lebih. Belum lama truck melaju ternyata roda sudah kempes, padahal jalan yang bakal dilalui kondisinya rusak.

Matahari sudah naik hampir berada di atas kepala, sinarnya membuat mata silau. Namun rindangnya pohon tempat kami berhenti menghalangi panasnya sengatan matahari. 30 menit rodapun sudah diganti dengan yang baru. Perjalanan ke Sirombu kami lanjutkan. Hiliduho adalah kecamatan pertama yang kami lalui jalanan mulai naik ke pebukitan. Untuk ke Sirombu memang kondisi medan jalannya naik turun karena melewati pebukitan. Saat saya lihat di peta memang banyak bukit yang harus kami lalui dari ujung timur Nias sampai ujung barat Nias. Tingkungan adalah yang paling banyak kami lalui, syukur ternyata sopir sudah khatam dengan kondisi jalan seperti ini. Kombinasi tangan dan kakinya memainkan laju kendaraan saat melewati lekukan-lekukan punggungan bukit maupun turunan dan tanjakan jalan. Kadang kala saat di puncak punggungan yang memang dilintasi jalan kami bisa menikmati pandangan sampai jauh dan bisa melihat bukit maupun gunung di samping kiri maupun kanan pandangan kami. Hutan yang masih lebat tercium aroma kelembaban hutan tropis semakin membuat kerinduan untuk menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Sempat saya lihat pada GPS bahwa ketinggian Kecamatan Hiliduho ini berada pada 250 mdpl. 2 hari yang lalu unicef telah mendistribusikan 1 set tenda di SMU Negeri 1 Hiliduho ini. Mungkin saya akan betah tinggal lama di kelas karena dari jendela akan terlihat pemandangan hutan di bukit depan yang lebat dan jauh dari kebisingan kota maupun polusi. Sedangkan dari lapangan olahraga akan lebih leluasa lagi mensyukuri keindahan hutan nias yang masih hijau dan lebat. Cukup lama kami memasuki kecamatan Hiliduho yang mempunyai luas sekitar 221,65 Km2. Turunan yang tajam disambung tinkungan cukup tajam tepat sebelum jembatan yang merupakan batas antara Kecamatan Hiliduho dengan Kecamatan Lolofitu Moi.

Kecamatan Lolofitu Moi merupakan lembah sungai Moi yang melewati kecamatan ini. Lolofitu Moi seperti ditengah-tengah mangkok karena dikelilingi oleh bukit maupun gunung. Tercatat tepat di Kantor Kecamatan Lolofitu Moi berada pada ketinggian 76 Mdpl. Karet dan Coklat merupakan perkebunan yang sering kami jumpai. Seperti saat berhenti makan siang di tepi sungai Moi tercium bau tidak sedap yang bersumber dari olahan bahan setengah jadi karet. Makan siang di tepi sungai Moi cukup menghilangkan kepenatan setelah 2 jam terpontang-panting di dalam kendaraan. Sungai Moi ini merupakan sungai utama dengan lebar sungai rata-rata 20 meter. Dari sungai ini biasanya warga mengambil pasir maupun batu kerikil untuk dijual sebagai bahan bangunan. Luas kecamatan Lolofitu Moi kurang lebih 236,52 Km2 lebih besar dari kecamatan Hiliduho yang baru saja kami lalui. Kemarin unicef telah melakukan distribusi bantuan tenda sekolah di SMP Negeri 2 Lolofitu Moi, kondisi bangunan sekolah beberapa ruangan mengalami kerusakan parah dan tidak layak untuk digunakan kembali dalam kegiatan belajar mengajar. Padahal tanggal 23 Mei 2005 merupakan jadwal ujian. Tenda merupakan kebutuhan mendesak sebagai tempat sementara selama rehabilitasi bangunan sudah jadi. Iring-iringan truck pengangkut bantuan melaju berlahan, 3 truck di depan dari PMI akan menuju ke Mandrehe untuk distribusi obat-obatan dan makanan pokok. 2 truck dari unicef dengan tujuan Sirombu ada di belakang. Kondisi tanah di Nias memang labil karena daerah kapur yang tertutup soil cukup tebal, sehingga kadang membuat jalan melesak ke bawah yang membuat jalan rusak. Ditambah lagi dengan gempa-gempa yang kerap terjadi semakin memperparah kerusakan jalan yang menghubungkan kecamatan-kecamatan di Nias. Banyak kami temui muka jalan yang retak terkelupas kulit aspalnya dan patah sepanjang 5-8 meter yang melesak kedalam sampai 1 meter. Masih 1 kecamatan lagi yang harus kami lewati yaitu Mandrehe namun laju masih lambat karena iring-iringan truck PMI yang tidak bisa bergerak cepat. Truck PMI memang lebih besar sehingga untuk mengambil haluan sedikit mengalami kesulitan disamping itu sopirnya bukan dari Nias sehingga kurang begitu mengenal medan yang dilalui.

Gapura batas kecamatan Lolofitu Moi dan Mandrehe disamping jalan telah kami lalui, itu berarti sekarang kami berada di Kecamatan Mandrehe yang mempunyai luas 293,20 Km2. Gempa memang menimbulkan perubahan pada infrastruktur yang ada termasuk jembatan. Hampir semua jembatan yang kami lalui telah terjadi kerusakan, selain kerusakan yang diakibatkan oleh umur dan frekuensi mobil yang melalui jembatan tersebut. Rata-rata jembatan masih menggunakan kontruksi yang lama yaitu dari bahan besi dan kayu sebagai tatakan untuk dilalui kendaraan. Umur kayu yang sudah tua sehingga banyak lobang yang kami temui selama melewati jembatan-jembatan tersebut. Ada satu sisi jembatan yang selisih ketinggiannya sampai 1 meter ini akibat dari gempa kemarin sehingga ketinggian permukaan tanah berubah. Perubahan juga terjadi pada kondisi jaringan listrik maupun telepon. Demikian pula dengan kondisi rumah disepanjang perjalanan yang kami lalui, hampir 80% terjadi kerusakan. Warga menggunakan tenda-tenda sebagai tempat tidur sementara. Yang lebih membahayakan mereka menggunakan lahan disamping jalan persis untuk mendirikan tenda, karena jalan tersebut sebagai lalu lintas kendaraan yang sewaktu-waktu bisa nyelonong ke pinggir jalan dan menerobos tenda mereka. Gerbang Sirombu baru saja kami lalui.

Jalanan mulai menurun curam dan beberapa kali patahan belokan kami lalui yang membuat goyangan pada truck yang kami tumpangi. Kecamatan dengan luas 223,80 km2 ini mempunyai wisata historis yang tinggi yaitu di Desa Onolimbu yang terletak di koordinat 00 59 10.0 N dan 97 30 04.0 E. Desa Onolimbu merupakan desa adat yang berusia 100 hingga 300 tahun. Di desa ini terdapat Rumah Adat Nias dan peninggalan budaya megalitik. Selain karet dan coklat di Sirombu banyak ditanami oleh sawah, ini yang membedakan dengan kawasan lain karena di Sirombu ini lahan yang digunakan untuk cocok tanam padi sangat luas mungkin secara geografis dan kondisi tanahnya cocok untuk ditanami padi. Jam di tangan sudah menunjukkan angka lima, warna kuning pada langit mulai nampak saat menurunkan tenda di SMP Swasta Faomasi Lahomi. Rusak parah mungkin itu yang tepat dan tidak layak untuk digunakan lagi. Wargapun membantu membangun ruangan kelas sementara secara darurat dan sekarang ditambah dengan bantuan tenda dari unicef.

Gempa telah membuat hancur seluruh infastruktur sendi kehidupan, namun jangan sampai membuat hancur jiwa kehidupan. Pendidikan adalah salah satu point penting dan kunci sukses untuk membangun kembali nias. Pendidikan jangan sampai terabaikan.

Gempa terasa di Teluk Dalam

Sunday, May 15th, 2005

Gempa140505614 Mei 2005 pagi kami tim AIRPUTIH berangkat ke Teluk Dalam yang berada di ujung selatan Pulau Nias. Keberangkatan kami ke Teluk dalam ini merupakan ajakan dari rekan-rekan HIC - UN OCHA. Mereka akan melakukan pendataan semua NGO-NGO yang bekerja di Nias Selatan. Mobil Land-Cruiser Devender warna putih dengan label UN memberangkatkan kami Teluk Dalam yang merupakan ibu kota Kabupaten Nias Selatan dan kurang lebih 83 Km arah selatan dari Gunung Sitoli. Kabupaten Nias Selatan merupakan pemekaran dari Nias induk. Akibat gempa 28 Maret kemarin bebrapa jembatan penghubung terjadi kerusakan sehingga menghambat perjalanan ke Teluk Dalam, 3 jam waktu yang harus ditempuh.

14 Mei 2005 sekitar pukul 12.00 WIB tepat di depan kantor ranting PLN di Teluk Dalam mesin mobil dimatikan. Memang Bang Andre dari UN OCHA ada keperluan untuk mengechekan perangkat PLN yang terjadi kerusakan di Teluk Dalam. Belum juga dingin mesin tiba-tiba goyangan kecil pada mobil terlihat. Mobil tergoyang semakin besar tatapan mata saya alihkan ke gedung-gedung dan tiang listrik. Ternyata gempa yang sedang terjadi, mobil UN di depan seperti memainkan pegas pada roda depan maupun belakang silih berganti. Secara spontan saya berteriak kepada teman yang masih dalam mobil untuk segera keluar. Tampak semua orang yang berada di dalam kantor PLN berhamburan lari keluar dan menuju lapangan di samping Masjid. Disisi lain satu orang seperti guru meneriaki siswa-siswanya untuk berkumpul di lapangan dan menjauh dari pantai. Memang kebetulan saat itu kami tidak jauh dari garis pantai mungkin sekitar 100 meter jaraknya. Andre dan Ali langsung menghubungi rekan-rekan UN di Gunung Sitoli maupun di Banda Aceh untuk memberikan informasi gempa di Teluk Dalam. Lukman segera mengontak rekan-rekan di Jakarta dan Banda Aceh untuk segera mencari data episentrum dan kekuatan gempa.

Sambil menanti gempa berhenti kami berlari ke lapangan untuk menjauh dari gedung dan tiang listrik yang bisa sewaktu-waktu jatuh. Sementara di seberang jalan masih terjadi hamburan orang keluar dari gedungnya masing-masing sambil berteriak memberitahukan bahwa terjadi gempa. Kurang lebih 1 menit lamanya gempa. Gerakan-gerakan selama 1 menit berhenti dengan sendirinya, kamipun langsung kembali ke mobil. Mobil diarahkan ke daerah pegunungan yang memang tampak di depan kami. sepanjang jalan yang kami lalui penuh dengan kendaraan dan rombongan keluarga yang hendak mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Toko-toko mulai ditutup dengan terburu-buru, bekal seadanya yang tampak di mata segera diangkut untuk persiapan di pengungsian. Tsunami itulah yang menjadi momok bagi semua penduduk saat itu. Suara klakson mulai ramai jalanan macet. Truck, mobil pickup, angkutan umum, becak, sepeda motor tumpek blek memenuhi jalan. Rombongan keluarga dengan membawa buntelan sarung kiran-kira berisi bekal makanan, seorang ibu membopong 2 anaknya yang masih kecil dan menggendong bayi kecil berjalan terburu dengan raut wajah ketakutan karena trauma. Bayangan gempa-gempa besar kemarin kembali seperti muncul dalam wajah mereka. Mobil berhenti pada asrama Bintang Laut yang berada pada lereng bukit.

30 menit tsunami yang kami takuti tidak datang, ada perasaan lega meski kecemasan masih menghantui. Kami kembali menuju ke kota untuk memeriksa ada korban atau tidak. Pertama yang kamikunjungi adalah kantor Bupati Kabupaten Nias Selatan. Menurut mereka masih belum ada laporan yang masuk mengenai korban maupun kerusakan rumah akibat gempa yang baru saja terjadi. Puskesmas Teluk Dalam tempat kedua yang kami datangi, namun juga belum ada laporan yang masuk mengenai korban. Belum puas mengenai informasi korban, kami menuju ke Kantor Polisi Resort Nias Selatan yang dekat dengan Kantor Kabupaten Nias Selatan. Namun info yang kami dapat juga sama yaitu belum ada laporan yang masuk mengenai korban. Kenapa harus menunggu laporan yang masuk, kenapa tidak ada reaksi yang aktif untuk melakukan pengechekan ke daerah-daerah. Kondisi berangsur normal, meski beberapa warga masih tetap bertahan di daerah pengungsian sementara. Sedangkan beberapa warga sudah kembali ke rumah masing-masing. shalahuddin yang berada di Jakarta mengontak Lukman dan memberikan informasi bahwa pusat gempa berada di koordinat 0.7 N 98.1 E dengan kekuatan 6.5 Skala Richter sesuai dengan sumber dari situs geofon. Setelah mengelilingi kota Teluk Dalam untuk memastikan tidak ada korban. Kami sepakat untuk kembali ke Gunung Sitoli sambil melakukan pengechekan desa-desa disepanjang jalan yang kami lalui.

Indonesia kaya akan sumber daya alam yang melimpah, menyimpan sejuta pesona dan kenakeragaman budaya yang menjadi identitas kultural bangsa. Indonesia juga merupakan tempat yang strategis terletak di antara dua benua yang besar. Indonesia merupakan tempat bertemunya jajaran pegunungan alpen dan himalaya. Indonesia memiliki karakteristik fauna yang menjadi batas dua wilayah yang berbeda yaitu walacea. Dan perlu diketahui bahwa Indonesia terpecah dalam beberapa lempeng besar dunia. Pulau Sumatera dan kepulauan di sebelah baratnya tepat berada digaris batas lempeng sunda dan lempeng australia. Akibat pergerakan kedua lempeng ini timbul gempa-gempa tektonik sehingga banyak menimbulkan korban jiwa seperti 26 desember 2004 dan 28 Maret 2005 kemarin, sudah ratusan gempa kecil maupun besar telah dan kerap terjadi dalam beberapa bulan ini, tentunya sistem peringatan dini harus segera dibangun sehingga langkah pengamanan bisa segera dilakukan untuk menghindari korban jiwa lagi.

Warisan Leluhur Yang Terlupakan

Thursday, May 5th, 2005

Rumahadat3Sore itu, Bang Duman datang ke posko membawa sepeda motor win. Seperti biasa dan seperti pengguna akses internet yang lain, bang Duman yang tergabung dalam LPAM Nias sebuah NGO bergerak untuk membantu pemulihan di Nias datang ke posko mebutuhkan akses internet yang kami sediakan untuk aktivitasnya. Sepeda motor itu kami pinjam untuk mencari udara segar sore hari. Seuai informasi dari rekan wanadri menganai pemandangan bagus dan rumah adat Nias, kami pun langsung meluncur ke daerah rumah adat ini, memang tak jauh jaraknya kurang lebih 2 Km dari posko AirPutih di Pendopo Kabupaten Nias. Dan memang benar rumah adat ini adalah salah satu sejuta pesona Nias, sehingga membuat tergelitik untuk menulis.

Ada
sesuatu yang terlewat dari amatan kebanyakan orang. Bahwa bentuk rumah
adat di Pulau Nias merupakan satu-satunya gaya bangunan yang masih
berdiri, tidak roboh. Jika dibandingkan dengan gaya rumah modern yang
umumnya digunakan oleh warga Nias. Namun rumah modern yang terdiri dari
batu bata, semen dan concret tulangan ini banyak yang hancur akibat
gempa 26 Desember 2004 dan gempa 8.7 richter pada malam 28 Maret 2005
kemarin.

Rata-rata umur rumah adat tradisional di Pulau Nias ini
sudah mencapai 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun. Tentunya
sudah ribuan gempa yang menggoyang Pulau Nias. Namun ruah-rumah adat
tradisional ini masih berdiri kokoh, meskipun ada beberapa rumah yang
sedikit miring akibat gempa besar kemarin. Hal ini menunjukan bahwa
nenek moyang kita telah mempelajari gejala alam dengan baik. Secara
turun menurun leluhur telah membuat desain dan kontruksi rumah adat di
Pulau Nias menyesuaikan dengan kondisi dan gejala alam di Nias. Nenek
moyang telah mengetahui bahwa Pulau Nias ini rawan dengan gempa,
sehingga mereka meciptakan desain kontruksi rumah adat tradisional yang
tahan terhadap gempa. Pulau Nias dan beberapa pulau-pulau di sisi barat
Pulau Sumatera merupakan batas pertemuan lempeng besar kerak bumi yaitu
lempeng sunda dan lempeng indo-australia, sehingga rawan terjadi
pergerakan-pergerakan pada kedua lempeng ini yang mengakibatkan gempa
tektonik. Hal-hal ini telah dipelajari oleh leluhur Nias.

Penyangga
tiang-tiang tinggi besar dan kuat yang bisa menahan gempa, padahal
tiang penyangga ini menahan beban yang berat karena bentuk atap rumah
adat nias yang tinggi. Selain itu desain kontruksi lainnya adalah
pasangan balok-balok yang yang dipasang secara silang di bagian bawah,
balok kayu ini berfungsi seperti pegas untuk menahan goyangan gempa
sehingga rumah tetap kokoh berdiri. Bahan yang digunakan rumah adat ini
seluruhnya adalah kayu. Menurut pemilik rumah adat di Gunung Sitoli
Inanova Telaumbanua, bahwa rumah adat Gunung Sitoli dengan rumah adat
di Teluk Dalam ada perbedaan bentuk yaitu kalau di Gunung Sitoli
rumahnya berbentuk bulat sedangkan di Teluk dalam rumah adatnya
berbentuk persegi panjang.

Di Gunung Sitoli rumah adat ini sudah
mulai ditinggalkan. Hampir 50 % rumah roboh dan hancur akibat gempa 28
Maret kemarin. Rumah modern dengan beton tulangan ini tidak kuasa
menahan gempa. Sementara rumah adat di Gunung Sitoli bisa dihitung
dengan jari rumah adat yang tersisa di Gunung Sitoli masih berdiri
kokoh. Bahkan mungkin hanya satu di Gunung Sitoli yang masih terawat
dengan baik seperti rumah adat milik keluarga Telaumbanua. Gunung
Sitoli merupakan Kota teramai di Pulau Nias, karena Gunung Sitoli
merupakan gerbang pintu masuk dari dunia luar. Kesulitan bahan baku
kayu untuk didapatkan dan mahal, proses pembangunan membutuhkan waktu
yang lama, desain kontruksi bangunan yang rumit dan ukiran-ukiran yang
sulit untuk dibuat merupakan penyebab rumah adat tidak dipergunakan
lagi di Gunung Sitoli. Namun ketangguhan arsitektur warisan budaya
nenek moyang telah terbukti dan harus diakui lebih hebat dari rumah
modern. Leluhur secara turun menurun telah mewariskan gaya arsitektur
yang memang dirancang berdasarkan karakteristik alam dan kondisi
lingkungan adat budaya Nias.

Pembangunan yang merujuk pada
warisan nenek moyang akan ikut melestarikan nilai sejarah kreasi budaya
leluhur, kondisi geografis letak Pulau Nias yang berada pada pertemuan
lempeng kerak bumi sehingga rawan gempa. Dua hal tersebut merupakan
kerangka utama yang tepat dalam proses pemulihan dan pembangunan
kembali Pulau Nias.

Matahari beranjak pulang, jingga senja mulai
memudar pemandangan kota Gunung Sitoli dan Laut Nias dengan
kesibukannya tak pernah pudar. Suguhan pemandangan indah itu selalu
menyisakan kesegaran relung jiwa yang kami amati dari Rumah Adat milik
keluarga Telaumbanua di ketinggian 110 mdpl. Tentunya sepeda motor
pinjaman milik Bang Duman dari LPAM Nias harus segera kami kembalikan
dan rutinitas di Posko AirPutih Internet Center Pendopo Kabupaten Nias
telah menunggu. Semoga pemulihan Nias segera berjalan dengan baik.

Saohagolo …

tentang sobat

Monday, May 2nd, 2005

Paras senja bergulir menampakkan sinar jingga. Bunga Flamboyan merah mekar menambah paras senja. Dahan tergoyang hembusan angin menjatuhkan bunga-bunga flamboyan. Jalan aspal yang hitam, semak belukar yang hijau, rerumputan yang mengering coklat terselimuti permadani merah flamboyan menambah paras senja. Berjalan menorobos semak-semak tergoyang. Sesekali kaki tersandung oleh panjang semak atau mungkin karena terburu-buru menuju bangunan kayu untuk istirahat. Sehabis dari wartel kopma menanyakan kabar seorang sobat. Sudah empat bulan ini dia harusnya sudah hadir di tengah-tengah kami. Dia ini putih kulitnya terbiasa dengan hidup bersih, nggak salah memang kalau dia dalam mengerjakan sesuatu sangat perfeksionis. Teringat saat mengelilingi kota malang untuk mencari alamat seorang anggota untuk menyebarkan undangan rapat koordinasi. Cuaca yang panas tidak mengendurkan semangat dia, sepertinya jalan ini sudah kami lewati 3 kali dan ini yang keempat kali. Namun hasilnya tetap nihil belum menemukan alamat yang kami cari. Keempat kali melewati jalan yang sama dan kami berhenti di warung rokok. Bukannya berhenti untuk membeli air mineral dan sebungkus rokok seperti yang aku lakukan, tetapi dia justru menyeberang jalan ke rumah tingkat bercat putih yang bertuliskan Ketua RT pada salah satu sudut tembok pagar yang tinggi. Aku paham apa yang dia lakukan, kalau orang lain sudah malas melakukannya. Dengan terik matahari yang menyengat tetap bersikeras memencet bel rumah. Istana yang lebih tepat, dengan tembok tinggi mempunyai kesan penghuni yang sangat tertutup dan protek terhadap lingkungan sekitarnya, bisa dibayangkan kalau pemilik rumah keluar pasti sobatku akan kena semprot karena siang panas begini adalah waktun istirahat malah diganggu oleh suara bel yang tiada henti berbunyi. Lingkungan disini adalah perumahan elit tempat orang kaya dan cukong-cukong, analisaku pemilik rumah itu meskipun Ketua RT tidak akan tahu alamat yang kami cari sambil kuperhatikan sobatku yang sabar menunggu pemilik rumah keluar. Untung kalau pemilik rumah sendiri yang keluar, tapi aku pesimis karena kebanyakan penghuni rumah di daerah sini kebanyakan hanya pembantu dan petugas keamanan saja. Namun sobatku tetap sabar menunggu di bawah terik matahari. Kerja keras, ulet dan tidak kenal menyerah. Kalau orang lain mungkin sudah dimasukkan bak sampah tumpukan undangan ini, atau mungkin disimpan di bawah kasur atau digeletakkan saja di atas meja. Sungguh panas waktu itu tidak menyurutkan semangatnya. Sudah empat bulan berlalu. Empat bulan ini inspirator dalam memunculkan semangat seakan hilang tanpa kehadiran sobat kami. Entah begitu besar semangatmu sebagai guru. Begitu banyak kegiatan yang sukses hasil keringatmu karena semangatmu, karena keuletanmu, karena kegigihanmu. Waktu tetap terus bergulir kami akan terus menunggu kehadiranmu. Sunggu sobat kami terus menunggumu … menunggu kegigihamu … menunggu keuletanmu … dan kami terus menunggu senyummu seperti saat-saat sebelum accident di Lembah Kera. Dan kami akan terus melantunkan nyanyian jiwa untuk kesembuhanmu. Empat bulan … dan waktu tetap datang terus berganti … Bersama bangunan kayu memandangi senja langit, memandangi warna merah jalan karena flamboyan. Paras senja perlahan beranjak meninggalkan. Namun kamu selalu menjelma menjadi sobat yang hangat, teman yang setia sabar, karib yang penuh kasih sayang, senyum yang ceria dan lembut memberikan rasa damai membisikkan “semua akan berjalan dengan baik”.