cerita tentang sobat
Pintu gerbang pemisah kampus dengan kampung hanya cukup dilalui satu orang itupun harus sedikit miring dan mengangkat kaki agak tinggi bila melalui. Aroma hujan saat menghirup udara terasa. Sisa-sisa hujan semalam nampak pada jalan aspal yang masih basah. Burung bernyanyi mengucapkan selamat pagi padamatahari yang malu-malu. Tumbuhan menjalar semakin menutupi bangunan kayu. Tumbuhan menjalar, menjalari bangunan kayu dan trembesi yang mengatapi bangunan kayu. Menyalakan rokok menghisap dalam-dalam dan pelan lalu mengeluarkannya. Bersama bangunan kayu menikmati damai dan indahnya pagi.
Terngiang begitu berat menjalani. Satu minggu menapaki kehidupan di bumi oranye. Kontras dengan apa yang mereka dengang-dengungkan saat menggembleng di lembah kera. “Kalian ini masih siswa, belum menjadi bagian dari keluarga kami. Keluarga besar IMPALA UNIBRAW. Karena persaudaraan yang kuat kami bisa survive, bisa membesarkan nama IMPALA UNIBRAW”. Kalimat-kalimat itu tidak pernah hilang dari otak yang mulai tumpul. Adakah sosok pemakai jaket wibawa seperti kemarin sore dalam lamunan. Damainya pagi jangan terlalu cepat berlalu.
Sobat, hidup tidaklah berjalan mundur. Dimana semangat yang kau peroleh dari lembah kera waktu itu? Kemana perginya pikiran-pikiran positif yang pernah ada bagian darimu? Kenapa hanya berkeluh kesah dan terus keluh kesah. Lihatlah di seberang jalan, gedung oranye itu tidak seburuk yang kamu sangka. Coba tengok, ada apa saja isi gedung oranye itu. Jangan hanya memandang luarnya saja sobat. Selami mereka dengan beraneka wajah dan karakternya, selami kenapa mereka seperti itu, tentunya ada alasan. Mereka adalah teman, mereka adalah guru, mereka adalah sahabat dan mereka adalah saudara. Ada segudang ilmu dan pengalaman didalamnya. Ada berbagai macam buku tersimpan yang siap dihabiskan isi sarinya. Atau apa saja … kenali satu persatu yang ada didalamnya yang bisa kau tangkap sobat. Bangunlah, bangkitkan asamu, temukan jiwa oranye dalam gedung oranye itu. Kamu bukan robot, kamu adalah pelaku. Jangan mau menjadi robot, buang jauh mental kuli yang menghinggapimu seminggu ini. Kamu adalah pelaku sejarah sobat. Ayo … sobat dari pada memendam dan memelihara rasa benci? Berilah sedikit ruang untuk mereka. Agar mereka bisa membuktikan, bahwa mereka tidak seburuk yang kamu duga. Bahwa mereka adalah jiwa oranye.
“krriieeekkk” suara benda berat bergesekan terdengar dari dalam sekretariat yang masih tertutup. Memberanikan diri berlari mendekati sekretariat. Ternyata ada yang mencoba menggeser meja hitam saat kulihat dari jendela. Pantesan suaranya terdengar sampai bangunan kayu. Pintu sekretariat dibuka, “Selamat pagi dik, tumben pagi-pagi gini sudah nongol” sapa perempuan dengan senyum dan logat balinya yang tadi berusaha menggeser meja hitam. “Lagi membersihkan sekretariat ya mbak. Mari saya bantu” sambil menyambar sapu dari tangan perempuan berlogat bali.
Saya bukan robot … saya bukan kuli … saya jiwa oranye. Cerita seorang sobat padaku suatu waktu di bangunan kayu.