Archive for April, 2005

cerita tentang sobat

Tuesday, April 19th, 2005

Pondokijou1Pintu gerbang pemisah kampus dengan kampung hanya cukup dilalui satu orang itupun harus sedikit miring dan mengangkat kaki agak tinggi bila melalui. Aroma hujan saat menghirup udara terasa. Sisa-sisa hujan semalam nampak pada jalan aspal yang masih basah. Burung bernyanyi mengucapkan selamat pagi padamatahari yang malu-malu. Tumbuhan menjalar semakin menutupi bangunan kayu. Tumbuhan menjalar, menjalari bangunan kayu dan trembesi yang mengatapi bangunan kayu. Menyalakan rokok menghisap dalam-dalam dan pelan lalu mengeluarkannya. Bersama bangunan kayu menikmati damai dan indahnya pagi.

Terngiang begitu berat menjalani. Satu minggu menapaki kehidupan di bumi oranye. Kontras dengan apa yang mereka dengang-dengungkan saat menggembleng di lembah kera. “Kalian ini masih siswa, belum menjadi bagian dari keluarga kami. Keluarga besar IMPALA UNIBRAW. Karena persaudaraan yang kuat kami bisa survive, bisa membesarkan nama IMPALA UNIBRAW”. Kalimat-kalimat itu tidak pernah hilang dari otak yang mulai tumpul. Adakah sosok pemakai jaket wibawa seperti kemarin sore dalam lamunan. Damainya pagi jangan terlalu cepat berlalu.

Sobat, hidup tidaklah berjalan mundur. Dimana semangat yang kau peroleh dari lembah kera waktu itu? Kemana perginya pikiran-pikiran positif yang pernah ada bagian darimu? Kenapa hanya berkeluh kesah dan terus keluh kesah. Lihatlah di seberang jalan, gedung oranye itu tidak seburuk yang kamu sangka. Coba tengok, ada apa saja isi gedung oranye itu. Jangan hanya memandang luarnya saja sobat. Selami mereka dengan beraneka wajah dan karakternya, selami kenapa mereka seperti itu, tentunya ada alasan. Mereka adalah teman, mereka adalah guru, mereka adalah sahabat dan mereka adalah saudara. Ada segudang ilmu dan pengalaman didalamnya. Ada berbagai macam buku tersimpan yang siap dihabiskan isi sarinya. Atau apa saja … kenali satu persatu yang ada didalamnya yang bisa kau tangkap sobat. Bangunlah, bangkitkan asamu, temukan jiwa oranye dalam gedung oranye itu. Kamu bukan robot, kamu adalah pelaku. Jangan mau menjadi robot, buang jauh mental kuli yang menghinggapimu seminggu ini. Kamu adalah pelaku sejarah sobat. Ayo … sobat dari pada memendam dan memelihara rasa benci? Berilah sedikit ruang untuk mereka. Agar mereka bisa membuktikan, bahwa mereka tidak seburuk yang kamu duga. Bahwa mereka adalah jiwa oranye.

“krriieeekkk” suara benda berat bergesekan terdengar dari dalam sekretariat yang masih tertutup. Memberanikan diri berlari mendekati sekretariat. Ternyata ada yang mencoba menggeser meja hitam saat kulihat dari jendela. Pantesan suaranya terdengar sampai bangunan kayu. Pintu sekretariat dibuka, “Selamat pagi dik, tumben pagi-pagi gini sudah nongol” sapa perempuan dengan senyum dan logat balinya yang tadi berusaha menggeser meja hitam. “Lagi membersihkan sekretariat ya mbak. Mari saya bantu” sambil menyambar sapu dari tangan perempuan berlogat bali.

Saya bukan robot … saya bukan kuli … saya jiwa oranye. Cerita seorang sobat padaku suatu waktu di bangunan kayu.

BILA TERJADI GEMPA ATAU TSUNAMI

Monday, April 4th, 2005
  1. Pahami kondisi di sekitar anda, rumah anda atau dimanapun anda berada.
  2. Matikanlah peralatan listrik yang masih menyala.
  3. Matikanlah kompor, lilin ataupun lampu templek.
  4. Gunakan tangga darurat, dan hindari pengunaan lift.
  5. Menjauhlah dari dalam rumah, gedung, bangunan atau benda lain yang bisa memungkinkan roboh, seperti tiang listrik, menara, tower, pohon, papan reklame, dan sebagainya.
  6. Bila dalam ruangan segeralah berlindung di bawah meja atau tempat tidur.
  7. Menjauhlah dari tebing terjal yang ada kemungkinan longsor.
  8. Menjauhlah dari tepi pantai atau sungai dan cepatlah menuju ke daerah yang lebih tinggi.
  9. Hindari dan jauhi jalan-jalan sempit yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi.
  10. Jauhi dan hindari tempat penyimpanan gas dan bahan bakar.
  11. Menjauhlah dari jembatan atau jalan layang.

capungnya UN

Sunday, April 3rd, 2005

Capungun1Sabtu 2 April 2005, capung mesin milik UN – WFP dengan jenis MI – 8 MTV 1 membawa kami terbang ke Pulau Nias tepat pukul 09.30 waktu Banda Aceh. Kalau kami bandingkan dengan herlcules C 130 milik TNI AU jauh bedanya karena heli ini kecil sekali getaran dan stabil saat take off maupun landing seperti pesawat boing 737 komersial.

Tampak koordinasi yang rapi dalam tubuh UN dan kru helicopter sebanyak 3 orang ini, selalu menampilkan pelayanan yang memuaskan namun tegas terutama masalah waktu. Ruangan cargo yang digunakan untuk penumpang dan barang berukuran panjang 5,34 m lebar 2,29 m dan tinggi 1,8 m ini dipenuhi oleh kebutuhan logistik untuk support tim UN dan kami dari tim airputih serta tim IT UN – WFP yang berjumlah 3 orang juga, mereka ini tenaga IT dari Filipina dan Afrika. Bersama mereka selama penerbangan kami mencoba mengamati  pemandangan di bawah.

Heli yang mempunyai berat maksimal saat take off  sampai 13.000 kg dan dapat terbang dengan kecepatan sampai 250 km perjam mengambil rute sepanjang pesisir barat pulau Sumatera. Dari sisi kanan dan kiri lambung heli terdapat jendela kaca berbentuk bundar dan salah satu dari beberapa jendela terdapat engsel sehingga bisa dibuka. Sehingga kami manfaatkan untuk melihat bagaimana kondisi di pesisir barat akibat gempa dan tsunami desember kemarin. Keramahan dari kru heli ini sangat memuaskan saat salah satu dari tim kami kedinginan karena angin yang masuk melalui jendela yang terbuka, dengan ramah kru memberikan tanda kepada kami bahwa jendela bisa ditutup bila kedinginan sambil memperagakan orang yang kedinginan. Memang saat mesin rotor penggerak kipas heli dinyalakan suara yang ditimbulkan sangat keras dan bising, untuk itu kru pesawat membagikan penutup telinga seperti headset sebagai peredam suara. Tak heran bagi kami yang ada di pesawat menggunakan komunikasi tubuh. Tepat di atas Pulau Simeulue dan pulau-pulau kecil di sekitarnya kami ambil beberapa foto, sungguh pemandangan yang indah pulau-pulau itu. Tak lama kemudian kami berada di atas Pulau Nias dan terbang di atas pesisir timur Pulau Nias. Tampak kerusakan akibat gempa 28 Maret 2005 kemarin, banyak bangunan yang hancur terlihat dari atas. Dan tepat siang hari sekitar pukul 13.12 waktu setempat kami mendarat di lapangan sepak bola Kabupaten Nias yang dijadikan landasan darurat khusus untuk helicopter, sementara landasan udara Binaka di Gunung Sitoli terlalu jauh dan ada keretakan pada landasan bandara tersebut.