- ibu peggy -
violet menggantikan gelap dengan bintang yang mulai hilang … violet dengan sedikit semburan merah diantara mega awan … garis hitam tipis di batas cakrawala fajar sedikit mulai terpancar … angin pagi sejuk menerpa wajah menyejukkan jiwa … warna violet fajar menyimpulkan senyum mengucapkan selamat pagi
saat nafas kami terasa berat dan sulit membuka kelopak mata di pagi hari, ibu peggy jiwamu menghembuskan sentuhan semangat baru kepada kami untuk mengatakan kepada dunia bahwa hidup tidak berhenti disini.
saat fajar dengan cahaya keputihan di bawah warna merah mulai menyapa … setiap hari bunga tertanam dengan rapi … menunggu sentuhan halus dan hangat sinar matahari … kelak saatnya tiba bunga itu mekar memancarkan warna indah dan semerbak bau harum …
kami ingin menjadi bunga-bunga yang kau rawat dengan sentuhan ketulusan serta kesabaranmu seperti ibu kami.
matahari bergerak berlahan beranjak … jingga menyerbak memenuhi relung … deburan ombak memantulkan semburat paras senja … ketika matahari tepat pada batas garis cakrawala … mulai tenggelam berlahan meninggalkan … tinggal sinar jingga tersisa … mengisi relung hati menenangkan jiwa …
violet fajar yang menghembuskan semangat dengan terpaan sejuk angin pagi hari selalu hadir dan pasti berlahan hilang meninggalkan … goresan jingga pada paras senja yang menenangkan jiwa selalu hadir dan pasti berlahan hilang meninggalkan …
dan selama ini menjelma dalam keseharian sebagai sahabat yang berbagi … sebagai wajah yang selalu tersungging senyum keramahan tutur kata … sebagai teman yang erat ketulusan dan menyenangkan … dan sebagai ibu yang selalu memeluk hangat kesabaran dan memberikan perlindungan kedamaian di hati kami dan masyarakat aceh …
ibu peggy terimakasih, kami tahu dirimu selalu hadir dalam relung jiwa dan akan selalu bersama kami … seperti violet fajar dan paras senja yang membisikkan dalam jiwa kami "jangan takut, semua akan berjalan dengan baik dan selalu erat tersimpul".
ibu peggy terimakasih dan salam bagi keluarga anda di rumah, doa kami selalu mengiringi anda sekeluarga.
-roim-
April 3rd, 2005 at 8:50 pm
maghrib sdh terlewat. saya ikut duduk menatap layar kristal cair menghadap meja separuh bundar. ada perempuan paruh baya kurus tinggi berambut pirang dengan kacamata bertengger di atas hidung betetnya. asyik bercakap was wes wos dengan aksen kental amerika dengan senyum tak lepas terkembang. peggy, begitu temanku yang lawan bicaranya memanggil. ooh dia ini to yg melegenda di posko aceh sana. seorang teman lain dg antusias mengabarinya. roim membikin puisi buat mu, peggy. lalu teman satunya mencoba menerjemahkan untuknya. aku lirik ada rona sipu merah di pipi putih pucatnya. i am crying, ujarnya dengan wajah tertunduk. tangannya sibuk menghapusi air mata yang luruh di sudut mata dengan sapu tangan. semakin yakin aku, bahwa ia seperti roim bilang eh puja…