Archive for March, 2005

- ibu peggy -

Thursday, March 31st, 2005

Peggyviolet menggantikan gelap dengan bintang yang mulai hilang … violet dengan sedikit semburan merah diantara mega awan … garis hitam tipis di batas cakrawala fajar sedikit mulai terpancar … angin pagi sejuk menerpa wajah menyejukkan jiwa …  warna violet fajar menyimpulkan senyum mengucapkan selamat pagi

saat nafas kami terasa berat dan sulit membuka kelopak mata di pagi hari, ibu peggy jiwamu menghembuskan sentuhan semangat baru kepada kami untuk mengatakan kepada dunia bahwa hidup tidak berhenti disini.

saat fajar dengan cahaya keputihan di bawah warna merah mulai menyapa … setiap hari bunga tertanam dengan rapi … menunggu sentuhan halus dan hangat sinar matahari … kelak saatnya tiba bunga itu mekar memancarkan warna indah dan semerbak bau harum …

kami ingin menjadi bunga-bunga yang kau rawat dengan sentuhan ketulusan serta kesabaranmu seperti ibu kami.

matahari bergerak berlahan beranjak … jingga menyerbak memenuhi relung … deburan ombak memantulkan semburat paras senja … ketika matahari tepat pada batas garis cakrawala … mulai tenggelam berlahan meninggalkan … tinggal sinar jingga tersisa … mengisi relung hati menenangkan jiwa …

violet fajar yang menghembuskan semangat dengan terpaan sejuk angin pagi hari selalu hadir dan pasti berlahan hilang meninggalkan … goresan jingga pada paras senja yang menenangkan jiwa selalu hadir dan pasti berlahan hilang meninggalkan …

dan selama ini menjelma dalam keseharian sebagai sahabat yang berbagi … sebagai wajah yang selalu tersungging senyum keramahan tutur kata … sebagai teman yang erat ketulusan dan menyenangkan … dan sebagai ibu yang selalu memeluk hangat kesabaran dan memberikan perlindungan kedamaian di hati kami dan masyarakat aceh …

ibu peggy terimakasih, kami tahu dirimu selalu hadir dalam relung jiwa dan akan selalu bersama kami … seperti violet fajar dan paras senja yang membisikkan dalam jiwa kami "jangan takut, semua akan berjalan dengan baik dan selalu erat tersimpul".

ibu peggy terimakasih dan salam bagi keluarga anda di rumah, doa kami selalu mengiringi anda sekeluarga.

-roim-

8.7 pada tengah malam

Wednesday, March 30th, 2005

Pusatgempa283052345Seperti biasa malam itu tanggal 28 Maret 2005 kami mengisi waktu ke warung kopi yang berada 100 meter dari posko kami di Jl. Teuku Umar 31 Seutui Banda Aceh. Mungkin sudah rutinitas kami bila malam dan belum tidur pergi warung kopi "pak item" tetangga kami. Namun hari itu lain dari biasanya, karena hampir dari keseluruhan anggota tim yang ada di posko belum tidur termasuk ibu peggy. Sekitar pukul 23.00 malam waktu setempat kami pergi ke warung kopi menyusul rekan-rekan yang sudah pergi sebelum kami.

Beberapa teman memesan minuman dan beli rokok sambil mengambil tempat duduk dan merubah layout meja karena 1 meja sebelumnya sudah tidak menampung dengan kedatangan kami. Kurang lebih 20 menit kemudian pesanan jeruk nipis saya baru datang, sedangkan pesanan teman-teman yang lain sudah diantar sebelumnya. Baru dua kali mencicipi hidangan jeruk nipis tiba-tiba getaran akibat gempa sedikit saya rasakan, dan kebetulan beberapa orang diseberang meja kami juga merasakan hal yang sama. Memang sudah beberapa kali kami merasakan getaran gempa selama berada di banda aceh, namun untuk yang kali ini berbeda sekali, awalnya getaran gempa kecil kemudian beberapa saat getaran gempa terasa semakin membesar. Tanpa ada yang mengkomando semua berlari keluar dan mnyeberang ke jalur hijau yang berada di tengah jalan raya Teuku Umar. Getaran gempapun terasa semakin hebat, dilanjutkan listrik yang padam sehingga menyebabkan kepanikan beberapa warga di sekitar kami. Saat itu pula langsung saya berlari ke posko untuk memeriksa rekan-rekan yang berada di dalam posko, syukur alhamdulillah 3 rekan yang berada di posko sudah keluar dari dalam gedung. Saya kembali ke depan warung kopi tempat rekan-rekan yang lain sambil memberikan kepastian bahwa tim yang ada di posko sudah berada di luar. Dan kami semuapun sepakat untuk tidak saling memisahkan diri sambil kembali ke posko.

Kondisi sehabis hujan semenjak siang tadi dan listrik yang padam semakin menambah kepanikan warga di daerah seutui. Tampak pula tetangga kami langsung keluar dan meneriakkan adzan di kegelapan malam dan keheningan malam itu. Beberapa saat kemudian mobil, sepeda motor dan beberapa rombongan keluarga yang berjalan kaki mulai memenuhi kondisi jalan teuku umar untuk mengungsi. Trauma terhadap bencana gempa dan tsunami 26 desember kemarin sangat terlihat dari kepanikan warga yang berbondong-bondong jalan menuju daerah yang lebih tinggi.

Generator tidak lama hidup dan listrik di Posko kami menyala. Langsung beberapa rekan menyalakan notebook untuk mencari tahu informasi mengenai pusat gempa dan berapa kekuatan gempa. Informasi mengenai gempa ini langsung kami sampaikan ke rekan-rekan airputih di Jakarta dan Malang. Kamipun melakukan aktivitas converence di Yahoo Messenger dengan rekan-rekan di Jakarta dan Malang.

Tidak lama kemudian kami menemukan beberapa situs yang memberikan informasi gempa. Kondisi jalan teuku umar di depan posko kami semakin ramai lalu lalang kendaraan bermotor milik para pengungsi menuju ke dataran yang lebih tinggi seperti daerah Mata Ie. Seperti dalam informasi situs milik pemerintah Amerika Serikat yang konsen ke geologi informasi gempa bumi bahwa gempa yang baru saja terjadi berpusat di antara Pulau Siemeulue dan Pulau Nias, tepatnya di Kepulauan Banyak Sumatera Utara pada koordinat 2.076 N  97.013 E. Kurang lebih pada kedalaman 30 km di bawah dasar laut. dengan kekuatan gempa 8.7 skala richter.

Posko airputih di Banda Aceh pun ramai didatangi oleh warga sekitar untuk mengetahui informasi secara lengkap gempa yang baru saja terjadi. Tak urung beberapa warga sekitar Banda Aceh pun juga sempat datang ke posko untuk mengetahui informasi gempa.

Kepanikan warga pun mulai berangsur turun, jalan-jalan pun berangsur sepi, namun kesiapan warga tampak pada malam itu dengan tidak tidur, sehingga sewaktu-waktu apabila terjadi gempa susulan bisa langsung siap melakukan pengungsian.

Mengenal Jaringan LAN

Sunday, March 27th, 2005

Pada jaman saat ini akses komunikasi dan informasi sangat penting, seperti iklan beberapa operator GSM komunikasi untuk siapa saja, dimana saja dan kapan saja sangatlah tepat bagi karakteristik manusia modern saat ini. Dengan mobilitas yang tinggi, efisiensi dalam segala aspek kehidupan, kepuasan dalam pelayanan, mencari layanan yang fleksibel dan mudah serta kecepatan dalam memperoleh informasi.

Inovasi dalam teknologi telekomunikasi sangat berkembang sehingga mencapai teknologi wireless yang memiliki fleksibilitas, mondukung mobilitas, mengurangi pemakaian kabel, dan penambahan jumlah pengguna dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

Dengan meningkatnya pemakai komputer, bertambahnya kebutuhan akan transfer atau sharing data dari unit satu ke unit yang lain dipisahkan oleh jarak secara otomatis semakin meningkat pula kebutuhan akan jaringan yang menghubungkan antar unit-unit tersebut untuk bisa berkomunikasi atau transfer data dan sharing data. Jaringan tersebut adalah Local Area Network (LAN).

Konsep jaringan komputer pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1940 an dari suatu proyek pengembangan komputer MODEL I di laboratorium Bell bekerja sama dengan kelompok peneliti dari Universitas Havard yang dipimpin oleh Profesor A. Haiken. Awalnya proyek ini hanyalah untuk memanfaatkan sebuah perangkat komputer yang digunakan secara bersama untuk mengerjakan beberapa proses tanpa banyak membuang waktu kosong. Maka dibuatlah proses beruntun (Batch Processing) sehingga beberapa program bisa dijalankan dalam sebuah komputer dengan kaidah antrian.

Image6wwwilmukomputercomharryjaringan_2Pada tahun 1950 an dengan berkembangnya jenis komputer maka sebuah komputer harus melayani beberapa terminal. Untuk ditemukan konsep distribusi proses berdasarkan waktu. Konsep ini dikenal dengan nama Time Sharing System. Maka saat itulah pertama kali aplikasi jaringan komputer dilakukan. Pada sistem TSS beberapa terminal dihubungkan secara seri ke sebuah host komputer. Pada sistem TSS ini mulai tampak perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi telekomunikasi, dimana sebelumnya masih berjalan dan berkembang sendiri-sendiri.

Pada tahun 1970 an semakin meningkatnya beban pekerjaan dan semakin mahalnya harga komputer, maka dimulailah konsep proses distribusi (Distributed Processing). Dalam proses ini beberapa host komputer mengerjakan suatu pekerjaan secara paralel dalam melayani beberapa terminal yang tersambung secara seri pada setiap host komputer. Image7wwwilmukomputercomharryjaringanPada proses distribusi ini mutlak dilakukan perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi telekomunikasi, karena selain proses mendistribusikan, seluruh host juga harus melayani terminal-terminal melalui satu perintah kerja dari komputer pusat.

Pada perkembangan selanjutnya ketika konsep proses distribusi sudah matang, maka penggunaan komputer dan jaringannya mulai beragam dari mulai menangani proses bersama maupun komunikasi antar komputer tanpa melalui komputer pusat. Sehingga mulai berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenal Local Area Network (LAN) hingga jaringan raksasa Wide Area Network (WAN).

PROTOKOL DAN STANDARD

Seperti yang kita ketahui bahwa di dunia ini ada berbagai macam perusahaan atau vendor komputer yang mempunyai bahasa sendiri dan cara sendiri. Sehingga diperlukan suatu aturan (Protokol) yang baku dan dijadikan sebagai aturan yang disepakati untuk diaplikasikan (Standard) oleh semua pihak agar semua produk komputer bisa saling berkomunikasi.

Protokol merupakan himpunan aturan-aturan main yang mengatur komunikasi data. Protokol mengatur apa yang dikomunikasikan, bagaimana mengkomunikasikan dan kapan terjadinya komunikasi. Elemen-elemen penting dari protokol ini adalah :

  • Syntax, mengacu pada struktur dan format data, yang mana dalam urutan tampilannya memiliki makna tersendiri. Seperti pada sebuah protokol sederhana akan memiliki delapan bit pertama merupakan alamat pengirim, delapan bit kedua adalah alamat penerima dan bit berikutnya adalah informasi itu sendiri.
  • Semantics, mengacu pada maksud setiap section bit. Dengan kata lain bagaimana bit-bit tersebut dapat terpola untuk dapat diterjemahkan.
  • Timing, mengacu pada 2 hal yaitu kapan data harus dikirim dan seberapa cepat data tersebut terkirim. Contoh adalah jika pengirim memproduksi data sebesar 100 Megabits per detik (100 Mbps) namun kemampuan penerima mengolah data hanya dengan kecepatan 1 Mbps, maka terjadi overload pada penerima dan banyak data yang akan hilang.

Organisasi-organisasi badan dunia yang konsen terhadap perkembangan standar dan data internasional adalah :

  • International Standards Organization (ISO)
  • International Telecommunications Union - Telecommunications Standards Section (ITU-T)
  • American National Standards Institute (ANSI)
  • Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE)
  • Electronic Industries Association (EIA)

Selain itu ada pula organisasi yang bersifat forum ilmiah seperti Frame Relay Forum dan ATM Forum. Terdapat juga organisasi yang berfungsi sebagai agen regulasi seperti Federal Communications Commision (FCC).

MODEL OSI dan PROTOKOL TCP/IP

Badan dunia yang mengatur dan melahirkan standard-standard internasional ini adalah ISO (International Standartization Organization) yang didirikan pada tahun 1947. ISO juga mengeluarkan standar jaringan komunikasi yang mencakup segala aspek, standar tersebut adalah model referensi OSI (Open System Interconnection). OSI merupakan himpunan protokol yang memungkinkan terhubungnya dua sistem yang berbeda yang berasal dari underlying architecture yang berbeda pula. Jadi tujuan OSI ini adalah untuk memfasilitasi bagaimana suatu komunikasi dapat terjalin dari sistem yang berbeda tang melakukan perubahan yang signifikan pada hardware dan software di tingkat underlying. Dengan demikian diharapkan semua vendor menggunakan model referensi ini.

Osimodel_1

Hubungan model referensi dengan protokol IP seperti pada gambar tabel tersebut tidak hanya berguna untuk LAN saja namun juga dibutuhkan dalam membangun jaringan internet.

Sementara ini dulu … nanti penjelasan lapisan OSI dan Protokol TCP/IP di sambung besok …

Kapal PLTD Apung I

Friday, March 25th, 2005

Crim0008

Sore itu jingga senja tidak juga muncul menjadi background. Mendung masih menggelantung karena hujan telah turun sesaat tadi. Namun keinginan untuk pergi keluar dari  posko airputih sangat kuat meski cuaca kurang mendukung untuk hunting foto. Setelah beberapa target kerja telah selesai dan untuk mengisi waktu kuajak salah satu rekan di airputih untuk menemani hunting. Dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash warna merah kami berdua pergi ke arah tempat terdamparnya Kapal Laut PLTD. Berita mengenai terdamparnya kapal ukuran jumbo ini sangat ramai bahkan beberapa media massa telah menerbitkan mengenai berita ini. Sehingga sangat menarik einginan untuk mendatangi lokasi tersebut.

Sebetulnya lokasi terdamparnya kapal ini tidak jauh kira-kira 300 meter sebelah barat dari posko kami. Kapal ini terdampar di atas bekas perkampungan yang musnah diterjang gelombang tsunami 26 Desember 2004 kemarin, tepatnya di kampung Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru – Banda Aceh. Kapal ini merupakan batas dimana kapal ini ke utara (ke arah pelabuhan Ulee Lheue) merupakan pemukiman yang hancur dan kapal ini ke arah selatan merupakan pemukiman yang bangunannya masih berdiri meski air gelombang juga masuk ke daerah ini.

Kapal Laut yang mempunyai ukuran kurang lebih panjang 65 meter dan lebar 20 meter ini merupakan kapal laut Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dengan kapasitas 10 WM (Mega Watt). Tidak heran jika kapal PLTD Apung I ini sangat penting bagi pasokan sumber listrik wilayah Banda Aceh.

Subhanallah sungguh menajubkan kapal ukuran jumbo ini bisa terbawa gelombang tsunami sejauh  5 km dari pelabuhan Ulee Lheue dengan berat kapal 3600 ton. Kapal dengan bobot 3600 ton ini menjadi obyek wisata bagi masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Menurut kabar akan dijadikan salah satu monumen untuk mengenang musibah bencana tsunami yang telah merenggut seratusan ribu nyawa dan korban materi yang besar. Namun rencana ini masih perlu dipertimbangkan mengingat keberadaan kapal ini yang berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Diesel masih bagus dan berfungsi dengan baik.

alam memang besar namun masih lebih besar Sang Besar

rumah kita

Thursday, March 24th, 2005

Papanpondokijou1_2 “ … Bravo !!!” ……. pekik sang nakoda. Pelan namun terasa nuansa beribu makna seperti saat memohon dikabulkannya doa kita kepada Sang Robb waktu sholat berjamaah … Amiin pelan penuh makna. Suasana itu langsung hilang tertutup bayangan proses rapat koordinasi yang baru selesai. Rapat koordinasi ternyata tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan kepanitiaan. Bahkan semakin menambah beban kepanitiaan. Rapat koordinasi justru sebagai ajang pembantaian. Belum selesai melamun memikirkan strategi menyelesaikan target-target paksaan hasil rapat “Hei … kamu … habis rapat rapikan ruangan ini!!!” suara cempreng badan kekar mungkin terlalu sering melahap menu latihan. Kulit hitam hangus seakan menandakan segudang pengalaman kegiatan. Wajah dan badannya mengingatkan pemain sepak bola Edgar "Pitbull" Davids yang pernah merumput di Juventus. Suara dan sosok menakutkan itu membuyarkan lamunan tersentak sesegera seperti robot membersihkan dan merapikan ruangan first room.

Dinding-dinding itu bisu kembali. Setelah merekam dan memasukkan dalam memori. Tergantung berjejer tepat di bawah plafon beton 13 foto seperti lintasan sejarah. Menempel papan putih dan beberapa suvenir di dinding timur. Papan putih banyak menyimpan goresan kenangan buah hasil otak. Papan putih itu tak pernah kosong silih berganti selalu terisi. Papan putih itu selalu menjadi pandangan pertama setiap kali memasuki ruangan ini. Sesekali kuperhatikan satu persatu benda-benda di ruangan ini sambil kulipat karpet merah bersama teman. Sedikit lebih maju dan terlipat mulutnya dari pada biasanya. Terburu gerakan melipat karpet menimbulkan kepulan debu. Ekspresi dongkol sangat mencolok tingkah laku dan wajah temanku berkaos kegiatan. Demikian pula dua temanku disebelah juga bertingkah laku sama melipat karpet lain. Sesekali menggerutu namun tak jelas kalimatnya.

Temanku perempuan berjambul mengambil sapu di balik pintu. Dahinya mengkerut mulutnya juga mengkerut. Mulutnya kelihatan lebih maju daripada temanku yang melipat karpet bersamaku. Lucu sebetulnya temanku berjambul ini mau tertawa ketika ujung sapu yang diambil patah. Memang sudah patah sebelum digunakan temanku yang berjambul. Lucu melihat wajahnya antara marah dan ingin tertawa. Semakin lucu wajahnya tidak semetris karena marah dan manahan emosi tertawa. Temanku yang berjambul mengambil sapu yang lain. 3 orang berjaket oranye mengelilingi meja hitam. Berwibawa apabila menggunakan jaket oranye. Mereka berkumpul di meja hitam. Meja hitam mejanya ketum sang nakoda saat rapat. Temanku yang berjambul dan temanku gigi berkawat menyapu lantai bawah kursi dan bawah meja hitam. Tanpa ada jawaban hanya mengangkat kaki. Permisi dan ijin sudah keluar dari dua temanku. Wajahnya sedikitpun tidak melihat dua temanku. Seakan dua temanku itu dianggap tidak ada. Sinar wibawa jaket itu pudar oleh mereka pemakai jaket wibawa. Dua temanku mempercepat menyapu.

Lantai kotak-kotak muram. Selain warna asli bekas kotoran roda sepeda motor menempel kuat di lantai. Ada 3 sepeda motor pernah memasuki ruangan ini terlihat dari corak ban sepeda yang berbeda mungkin kemarin malam. Tentunya susah dihilangkan bekas itu kalau hanya dengan sapu. Selain ban sepeda bekas sepatu juga ikut memuramkan lantai. Jumlah berapa sepatu tentunya susah untuk dihitung. Membuat risih jika memandang lantai terutama bagian pintu. Padahal ada keset di depan pintu. Tubuhnya miring-miring ketika berjalan melewati kursi panjang. Tubuhnya miring karena membawa satu ember air. Ada 5 orang bercerita dan bersenda gurau duduk di kursi panjang. Dua orang menggunakan jaket oranye. Entah apa yang diceritakan. Pandanganku tertuju pada kursi panjang itu. Sebetulnya kursi panjang itu terdiri dari kursi-kursi pendek tinggal kerangka. Kursi-kursi pendek disusun satu baris dan dihubungkan dengan papan panjang. Papan panjang sebagai tempat duduk dan bersandar jadilah kursi panjang. Kursi panjang tampak indah dengan grafity. Rasa kagum kutujukan kepada pembuat kursi panjang itu. Kursi panjang buah karya tangan terampil. Bergerak merangkak mundur cepat dan bertahap. Berusaha tidak ada yang terlewatkan. Baru dua bilasan air dalam ember langsung coklat warnanya. Bekas roda dan sepatu hilang oleh sapuan air temanku. Namun lantai itu masih muram. Semua itu karena disuruh. Terbesit tidak ada rasa ikhlas pada wajah kami. Lantai itu masih muram.

Berduyun-duyun jalan dan lari. Tanpa ada komando kami menuju bangunan kayu. Bangunan kayu diapit oleh gerbang hijau yang masih basah oleh hujan yang baru reda. Mendung masih menggantung di atas menghalangi jingga sinar matahari. Saat kami melewati jalan aspal hitam yang masih basah. Satu persatu naik ke bangunan kayu. Mulai satu persatu mengeluarkan isi hati setelah ditahan dalam dada. Gemuruh didada sudah tak kuasa menampung. Umpatan, benci, sakit hati, kecewa meluncur dari mulut-mulut mungil. Bangunan kayu mengangguk memahami. Memang bangunan kayu tempat mencurahkan isi hati. Karena mereka tak menganggap kami.

Sosok perempuan rambut panjang lurus hitam menggunakan jaket warna oranye mendekati kami. Langkah-langkah pelan anggun selalu menebarkan senyum. Temanku bergeser memberikan tempat. Matanya bulat berbinar memandang kami satu persatu. Mulut mungil tak pernah lepas dari senyum memulai pembicaraan. Suaranya pelan namun terdengar jelas di telinga kami. “Kenapa tidak bergabung dengan kami di ruangan sana.” jari kecil bersih menujuk ke first room seberang jalan aspal. “Oh ya … terimakasih ya sudah membersihkan rumah kita yang kedua”.  “Jadi bersih rumah kita oleh jerih payah kalian adik-adikku”. Ucapan terimakasih yang kami tunggu-tunggu keluar dari pemakai jaket oranye. Orang ini berbeda dengan mereka yang ada di sana, batinku. Kami sedikit tercengang dengan kata-kata “rumah kita”. Sekarang adalah rumah kamu, tempat tinggal kamu dan saudara-saudara kamu. Organisasi ini bisa berjalan membutuhkan tempat. Tempat untuk diskusi membuat ide-ide kegiatan. Tempat untuk rapat mengkoodinasikan kepanitian agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Tempat untuk mencari ilmu dan mengasah kemampuan. Tempat untuk kita sebagai keluarga. Apabila rumah kita kotor, semrawut, bau apek. Orang akan enggan untuk masuk ke sumah kita. Maka rumah itu akan kosong tidak berfungsi. Aktivitaspun terhenti. Kita tidak akan memperoleh ilmu dan pengalaman. Kalimat-kalimat itu meluncur dari bibirnya yang tipis. Kami mengangguk membawa pemahaman baru. Bangunan kayu tampak gembira. Telah hadir sosok wanita pemakai jaket wibawa.

Suara adzan terdengar dari masjid di sebelah barat bangunan kayu membangunkan dari lamunanku. Dengan langkah berat kutinggalkan bangunan kayu. Bangunan kayu tersenyum …

cuci dengan hati

Wednesday, March 23rd, 2005

Papanpondokijou1_1

Udara kering mudah bagi angin untuk melemparkan debu. Lapangan itu tak lagi berwarna hijau karena rumput-rumput liar yang selalu tumbuh jika musim hujan. Hanya warna tanah kering diselimuti debu yang dihempas angin. Enam perempuan, dua berjilbab di depan tampak terburu, empat di belakang berjalan beriring. Dari timur dua kelompok pejalan ini saling diam karena tak mengenal. Lucu semuanya menutupi wajah dengan buku dan tas. Baru kusadar apa yang mereka lakukan untuk mencegah debu yang terbang. Lapangan itu tak pernah sepi bagi pejalan sebagai lintasan menuntut ilmu bekal menyongsong esok. Ujung selatan lapangan pohon trembesi kokoh dahannya panjang memberikan keteduhan bagi pejalan. Trembesi itu seperti tersenyum mengundang mempersilahkan pejalan lewat memberikan kepastian rasa teduh dan aman.

Kembali kukaitkan webbing di salah satu penyokong bangunan kayu. Rangkaian webbing terikat jadi satu tampak indah karena beragam warna ikut menghiasi bangunan kayu. Ujung yang lain kukaitkan pada penyokong lain bangunan kayu. Tubuhku kemarin telah kau pegang erat sehingga tak jatuh batinku. Temanku datang membawa satu pasang helm putih sambil mengibas membuang sisa air. Untung kupakai dengan benar helm ini saat jalan merangkak terbentur plafon gua cerita teman sambil mengulurkan satu helm padaku. Putih helm itu banyak goresan sebanyak kepala yang telah kau lindungi. Kukaitkan pada kayu bawah atap bangunan kayu. Sebelah barat bangunan dua temanku sibuk berputar mengelilingi dua pohon besar. Tali itu meliliti dua pohon besar mengikuti arah dua  temanku.
Sesekali menurunkan ember memberikan waktu pinggang lepas dari beban. Tanpa disadari kami diam menatapi satu persatu chest harnest, sit harnest, chest croll, oval MR, delta MR, carabiner, foot lop, prusik, coverall terpasang bergelantungan pada beberapa bagian bangunan kayu. Hanyut dengan pengalaman masing-masing. Tiga hari membawa pengalaman yang berarti. Diam sesekali menguap meneteskan air mata tanda lelah. Terngiang nyawa tergantung rangkaian alat terkait seutas tali. Duduk dikelilingi untaian peralatan pengaman kami. Meresapi bagitu besar fungsi peralatan yang telah kami cuci dengan hati. Kami menatap diam tanda sepakat akan selalu merawat dengan sepenuh hati. Mereka seperti membalas pandangan kami. Tampak senyum segar mereka seakan mengucapkan terimakasih telah dicuci dibersihkan dengan hati.

Kembali kupandangi trembesi itu. Kembali kupandangi pejalan-pejalan yang tak pernah berhenti melewati lapangan yang tetap kering berdebu masa itu. Kamipun tidak beranjak dari bangunan kayu meski matahari berlahan berangkat pulang. Setia menunggu pengaman kami sampai siap memasuki tempatmu untuk istirahat. Istirahatlah teman sambil menunggu waktu untuk mengamankan kami kembali.

pondok ijou

Wednesday, March 23rd, 2005

Papanpondokijou1Bangunan kayu di bawah rimbun pohon-pohon. Semak belukar tumbuh panjang kelihatan tak terurus, beberapa kantong plastik terlihat berserakan dibawah bangunan. Lampu 5 watt cahaya kuning redupnya memberikan kami semangat dalam tengah malam. Angin berhembus dari arah selatan menggerakkan rambut yang mulai memanjang. Memang tanpa disadari ada kesepakatan bahwa rambut kaum adam harus dibiarkan memanjang diantara kami. Tengah malam dingin semakin terasa menusuk tulang oleh hempasan angin malam. Gerakan-gerakan tangan memukul tubuh untuk mengusir nyamuk yang beberapa kali hinggap mencari daerah panas merah untuk menyambung hidupnya. Sering pula dengan menggerakkan bagian tubuh terutama kaki untuk membantu mengusir nyamuk.

Nyamuk … kadang kala teman untuk mengusir rasa kantuk. Tapi tidak untuk satu temanku, dia begitu baik hati darahnya diberikan dengan ikhlas untuk nyamuk-nyamuk itu. Rambut yang nanggung kumal mungkin seminggu belum sempat dibersihkan dengan shampoo. Kaos lengan panjang abu-abu bergambar salah satu acara maba MIPA 1997 kelihatan bersih namun kotor di bagian lengan dan belakang punggunggunya. Celana lapangan alpina krem tampak sedikit terbuka resleting depan, mungkin karena capek sehingga tidak terlalu diperhatikan. Nafasnya yang teratur dan berirama terlihat dadanya yang naik turun seirama dengan suara halus dari hidung dan mulutnya, sungging senyummu seperti dipaksakan karena untuk menutup rapat bagian mulutnya. Namun ekspresi keseluruhan wajahnya tampak sedang mensyukuri alunan tengah malam saat itu untuk tidur. Iri kumelihatnya. Istirahatmu di papan ujung bangunan kayu sebelah selatan samping lapangan bola. Istirahatlah sejenak teman sambil menunggu panggilan, semoga Tuhan selalu melindungimu seperti bangunan ini melindungi dan memberikan tempat istirahat sejenak bagimu kukatakan dalam hati sambil mengambil nafas dalam-dalam dan mengeleuarkannya pelan-pelan seiring membuang kepenatan.

Suara angin, katak dan jangkrik ataupun suara kesibukan beberapa tetangga yang masih hidup sedikit samar karena vokalnya yang dominan didekatku. Sebatang rokok wismilak terselip di jarinya. Sesekali sambil mengalunkan lagu kesaksian sebatang rokok dihisap begitu mantap seperti memaknai syair kesaksian yang dilantunkan.

KESAKSIAN
aku mendengar suara
jerit makhluk terluka
luka … luka
hidupnya luka
orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna … sirna
hidup redup alam semesta luka
banyak orang hilang nafkahnya
aku bernyanyi menjadi saksi
banyak orang dirampas haknya
aku bernyanyi menjadi saksi
mereka dihinakan tanpa daya
ya … tanpa daya
terbiasa hidup sangsi
orang-orang harus dibangunkan
aku bernyanyi menjadi saksi
kenyataan harus dikabarkan
aku bernyanyi menjadi saksi
lagu ini jeritan jiwa
hidup bersama harus dijaga
lagu ini harapan sukma
hidup yang layak harus dibela

suaranya kadang jelas kadang menghilang atau terkesan nggremeng, mungkin ada bait yang lupa. Sesekali gerakan tangannya tampak mengusir nyamuk asap rokokpun mengikuti gerakan tangan tersebut. Tangan yang satu memegang dan menarik beberapa helai rambutnya yang hitam lurus dan lemas. Rambut yang disukai kaum hawa. Cahaya kuning 5 watt menerangi bagian kanan wajahnya. Penuh makna kharisma singa terpancar dari wajahnya begitu kuperhatikan. Hem lengan panjang kotak-kotak warna merah tergantung slayer orange di lehernya tampak kusam pudar belum pernah dicuci semenjak di kalungkan pertama kali saat pengangkatan setahun yang lalu. Guratan dan lipatan kulit di wajahnya menampakkan begitu dewasa dalam menjalani proses hidupnya persis satu kalimat yang keluar “… apapun yang terjadi … terjadilah …” siap menjalankan tugas apapun begitu kuat maknanya. Tembang lain iwan fals meluncur lagi dari mulutnya sambil sesekali menguap. Ah … begitu mulia dirimu dengan ikhlas menghibur kami meski kutahu tubuhmu begitu lelah seperti kamu saat menguap menahan lelap. Kami terhibur oleh nyanyian hatimu. Bangunan kayu ini telah merekam seakan menggema oleh suara-suaramu. Bangunan kayu yang memberikan tempat mengungkapkan suara hati untuk menghibur diri sambil menunggu panggilan.

Enam dawai gitar saling bergoyang dimainkan jemantik kekar. Meski kekar namun gemulai memainkan dawai-dawai tersebut. Kekar setelah hampir setahun ini digunakan merayapi papan dan tebing-tebing. Medan yang kamu gunakan dalam mencari kemampuanmu sesungguhnya. Hanya sedikit ujung-ujung rambutmu yang tergerak oleh angin. Meski panjang mungkin keriting karena kumal juga sehingga angin susah untuk menggerakkannya. Perlahan tubuh disandarkan pada salah satu kayu penyokong bangunan kayu. Perlahan untuk menikmati posisi nyaman mengistirahatkan penopang tubuh. Begitu nyaman tersembul dari ekspresi wajahnya ketika sudah menemukan posisinya. Gerakan jarinyapun tak terhenti. Sedikit kau pejamkan matamu. Suaramu pelan namun terdengar mantap penuh makna mengiringi petikan jarimu. Menambah makna suara temanku yang lain. Kesatuan melodi yang tak terpisahkan begitu syahdu kami dengarkan. Kami paham meski di otakmu ada putaran permasalahan lain yang menjadi beban. Namun masih kau luangkan menghibur kami menemani menunggu panggilan meski kau sudah terpanggil. Menghanyutkan emosi membangkitkan asa. Begitu mulia sifat yang kau miliki. Seakan bangunan kayu berteriak setuju dengan pendapatku kala itu.

Kecil mungil tubuhmu disela tubuh-tubuh besar teman-teman. Sering kali menggerakkan tangan membetulkan posisi kacamata yang setia menemani matamu. Tak pernah lepas dari jepitan telinga yang tersembunyi di balik jilbabmu. Buku panduan edisi terbaru tak pernah lepas dari matamu. Cahaya 5 watt membantumu untuk memahami isi buku yang seminggu ini menjadi bacaan favorit bagi rekan-rekanku unik kuperhatikan. Jaket merah berbulu membantu melindungi diri dari dingin malam itu. Celana hitam elvis (elvi sukaisi) kami menyebutnya senantiasa menutupi auratmu. Pembenaran yang kau ucapkan ketika kami sering menyindir celana idolamu. Begitu bersemangat ikut mengalunkan lagu-lagu iwan fals yang dimainkan rekan-rekan. Kami tahu iwan fals adalah idolamu. Kaset-kasetnya pun kamu punya koleksi. Sering gagap saat berbicara di depan forum. Namun keberanianmu begitu membuatku iri. Kau ikuti dan selesaikan sampai tuntas saat forum-forum dan saya tahu itu adalah masa-masa paling menakutkan bagimu karena gagapmu. Sesekali kakinya sering bergerak untuk mengusir nyamuk yang mencoba hinggap di kakimu. Bangunan kayu seakan memahami kelemahanmu. Bangunan kayu paham dan tahu bahwa tugas kuliah menumpuk apalagi kamu 2 tahun lebih dahulu di brawijaya. Bangunan kayu juga terharu dengan keberanian dan antusiamu menunggu panggilan.

Tubuh kurus tinggi. Kerutan dahi. Tahi lalat tak pernah lepas dari ujung hidungmu selalu kau pegangi sebagai ekspresi ada beban pikiran. Wajahmu terpancar kegelisahan. Menurut kabar ada saudara datang. Buku panduan itu selalu dibolak-balik isinya. Namun susah untuk konsentrasi. Tas coklat rajutan dari benang kau sambar begitu cepat dari sampingmu untuk menutupi telapak dan ujung kaki yang mulai ada gangguan gigitan nyamuk atau mungkin sekalian mengusir hawa dingin. Sambil sesekali menarik-narik ujung jilbab merapikannya. Bangunan kayu sepertinya memahmi kegelisahan temanku ini. Waktu untuk saudara kau tinggalkan bersama kakakmu di kamar kos meskipun sudah ijin untuk malam ini tidak bisa menemaninya. Bangunan kayu paham terpancar dari cahaya remang 5 watt bahwa kau datang untuk menunggu panggilan.

Kadang tertawa bercanda dengan teman lain. Kadang terlihat matamu menerawang mencoba menembus kegelapan di ujung lapangan voli. Kepala terkadang mengangguk-angguk mengikuti irama lagu yang dimainkan teman. Ujung rambutmu jambul kami menyebutnya ikut terangguk-angguk. Logat kulonan terasa khas pati saat bicara meski lirih kalah oleh suara teman yang bernyanyi. Kalau gak salah dia coba memberikan semangat kepada teman yang menunggu panggilan. Meski malam larut rumah kos-kosan sudah dikunci namun setia menemani kami. Begitu indah kesetiakawanan dan rasa persaudaraan yang diberikan itu yang bangunan kayu ungkapkan.

Dari balik tanaman menjalar muncul baru datang. Pelan-pelan wajahnya mulai tampak oleh sinar cahaya 5 watt. Wajah itu mengingatkan kami di merubetiri saat dia memakai ponco jas hujan diikat dengan sabuk yang tentara sering gunakan. Wajah itu mengingatkan tokoh film young guns. Mengeluarkan sebungkus rokok habis dari kampung sebelah kampus. Naik ke papan duduk di sebelah teman pemetik gitar. Kemudian mengamati wajah kami satu persatu. Rambutnya sudah mulai sebahu disisir pakai tangan. Tangan yang satu mengambil karet di saku celana untuk pengikat rambut. Nah sedikit rapi mungkin dalam hatinya. Bangunan kayu memberikan tempat dan mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan teman.

Ruangan sebelah pramuka pintu terbuka. Keluar teman berjalan menuju bangunan kayu tempat teman berkumpul menunggu. Matanya yang agak sipit semakin sempit ketika tiba-tiba setelah dihadapan kami dia mengumpat “… tak bunuh … tak bunuh …”. Lucu kuperhatikan teman ini. Mengumpat sambil cekikikan tertawa. Memang kata-kata itulah yang sering di lontarkan apabila ada teman yang menggodanya. Ceplas ceplos langsung keluar cerita pengalaman di dalam saat panggilan tiba. Sesekali umpatan tak bunuh keluar lagi. Unik temanku ini. Dia keluarkan jaket almamater fakultas dari tas. Naik ke papan lebur meramaikan suasana menjadi ceria dengan kelucuannya. Sharing bagi cerita duka suka dan pengalaman bangunan kayu setia mendengarkan.

Sementara aku duduk paling pojok sebelah barat teman yang tidur. Hanya duduk memperhatikan teman ingin menjadi bagian dari mereka. Begitu besar motivasi teman-temanku hingga bisa bertahan. Suatu hal yang menjadi dasar bagi teman-temanku bisa bertahan survive. Sehingga edan rasanya sampai mengenyampingkan kepentingan lain. Pengorbanan untuk mencapai tujuan. Sharing saling berbagi suka duka hingga memperkuat persaudaraan. Modal dasar yang berarti dalam mencari cakrawala khasanah wawasan mengasah kemampuan. Karunia terindah yang membuatku ingin seperti mereka temanku … sahabatku … saudaraku.

Sepertinya namaku dipanggil. Kucoba berdiri melangkah turun namun kepalaku terbentur sesuatu. Teman-teman memberikan semangat menjabat tanganku seakan mengantarkanku ke ruangan wawancara. Rasa persaudaraan yang kuat. Kuberjalan menjauh dari bangunan kayu meski bisu namun aku tahu kamu ikhlas memberikan tempat bagiku untuk merenung. Terimakasih bangunan kayu meski kepalaku terbentur papan namamu. pondok ijou.